Bukan Wakil Tuhan di Bumi

Ada sekelompak orang yang sudah sangat lama menantikan datangnya tahun 2009 ini, mereka adalah para politisi. Walaupun juga ada banyak lagi kelompok yang menantikannya seperti mereka-mereka yang bergerak di bidang percetakan, para ustadz, artis dan masih banyak lagi. Tapi tetap saja tidak mengalahkan penantian para Politisi.

Penantian itu dikarenakan pada tahun ini kita akan melaksanakan Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden. Walaupun masih beberapa bulan lagi waktunya, namum geliat itu sudah sangat terasa saat ini. Kita lihat saja spanduk sudah menghiasai antar tiang listrik, baleho sudah terpampang disudut jalan, stiker juga sudah bertebaran di dinding-dinding, belum lagi kalender yang sudah menghiasi rumah-rumah dan mesjid, dan iklan Partai juga sudah muncul di televisi kita.

Kondisi ini adalah buah dari demokrasi dan reformasi di bangsa ini. Dulu mungkin Soekarno dan Hatta cukup ditunjuk saja, dan kita memakluminya, namun zaman sudah berganti. Dan logika serta pemahaman sudah berkembang, sehingga saat ini di era keterbukaan perlu kiranya dilakukan pemilihan secara Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia serta Jujur dan Adil. Dipilih dan memilih adalah hak setiap warga negara yang memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan, jadi siapapun yang bisa merebut hati rakyat maka ia pun berhak menduduki jabatan politis di negeri ini.

Seperti apakah Pemimpin (DPR, DPRD, DPD, Presiden dan Wakil Presiden) yang ideal untuk kita berikan mandat untuk mengurus negeri ini?? Memang sangat sulit untuk merumuskan figus pemimpin yang ideal itu, karena walau bagaimanapun konsep ideal itu dibuat tetap saja yang menjalankannya adalah makhluk yang bernama Manusia yang memiliki banyak keterbatasan dan berbagai macam kepentingan.

Selama ini yang terjadi adalah ketika kekuasaan tergenggam, maka kesewenang-wenangan pun berlangsung. Sejarah dunia sudah mencatat hal yang serupa. Dan revolusi yang sempat diusung beberapa pemimpin sebuah negara dengan selalu mengatasnamakan rakyat, ternyata kemudian bertemu dengan penindasan baru.

Konsep ideal seorang pemimpin negeri yang baik, paling tidak memenuhi kemampuan untuk menjadi Tauladan dan kemampuan untuk mensejahterakan. Menjadi tauladan bermakna bahwa seorang pemimpin harus memiliki sikap yang baik dan tidak sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya. Karena dalam menjalankan sebuah kekuasaan, setiap orang akan cenderung untuk melakukan penyimpangan kekuasaan. Konsekuensi logis dari hal ini adalah sebuah kesimpulan bahwa Pemimpin bukanlah wakil Tuhan di bumi, melainkan adalah seorang pelayan bagi masyarakatnya. Seperti pada masa feodalisme dulu, seorang Raja menganggap bahwa dia adalah wakil Tuhan di Bumi, sehingga penerusnya haruslah dari keturunannya.

Kemudian karena ia adalah wakil Tuhan di muka bumi sehingga muncul anggapan bahwa air, tanah dan udara yang ada diwilayahnya adalah miliknya. Dan mengakibatkan munculnya sistim upeti, karena rakyat dianggap hanya menumpang di tanah sang Raja. Mereka bukanlah seorang Nabi atau Rasul yang diutus Tuhan untuk menjadi juru selamat di bumi ini. Tidak ada wahyu sebagai perintah atau peringatan yang diberikan Tuhan bagi mereka ketika menjalankan amanah. Sehingga peluang penyimpangan kekuasaan itu selalu ada.

Kemampuan untuk memakmurkan adalah tugas penting berikutnya. Terbentuknya sebuah negara tentunya memiliki tujuan, dan tujuan itu adalah sebuah kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Terlepas dari apapun bentuk dan sistim negaranya, tujuan tadi tetap merupakan visi yang ingin dicapai dalam sebuah negara. Dan dalam memakmurkan, tentu saja objeknya adalah Rakyat secara keseluruhan, tidak hanya dari keluarga, kerabat, golongan dari partai mereka saja yang menjadi objek kemakmuran tersebut.

Kita berharap, hiruk pikuk Pemilu dan Pilpres ini menghasilkan pemimpin-pemimpin yang sangat di idamkan oleh segenap rakyat negeri ini. Sudah lama kita mengidamkan pemimpin yang mampu menjembatani berbagai kepentingan rakyat sehingga kesejahteraan dan kemakmuran dapat dirasakan. Rakyat sudah lelah menjadi komoditi politik para elit tanpa pernah mendapat hasil. Sebuah amanah adalah jalan menuju pahala, namun juga adalah jalan menuju dosa. Semoga para pemimpin kita tetap istiqomah dalam mengemban amanah.

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

4 Responses to Bukan Wakil Tuhan di Bumi

  1. attayaya says:

    politik di dramatisir
    drama di politisir

    http://attayaya.blogspot.com/2008/07/defenisi-politikus.html

  2. SM says:

    Golput lagi mungkin pemilu kali ini,

  3. def@mathholic says:

    Seperti apakah Pemimpin (DPR, DPRD, DPD, Presiden dan Wakil Presiden) yang ideal untuk kita berikan mandat untuk mengurus negeri ini??

    seperti yang kemarin-kemarin…

    namanya juga politik…

    …have fun

  4. thanks a lot for sharing this. heard about something like this for the first time. lista de emails lista de emails lista de emails lista de emails lista de emails

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *