Catur; Sebuah Filosofi Kepemimpinan

Tak banyak orang yang tahu perihal riwayat catur sebagai sebuah permainan. Mungkin dari Mesir, mungkin dari Cina, atau entah dari belahan dunia yang mana ia berasal. Terlebih lagi bila kita menginventarisir kembali jenis-jenis permainan catur. Namun demikian, tetap saja kita memahami catur sebagai sebuah permainan, suatu aktifitas dengan muatan peraturan di dalamnya. Tapi benarkah catur hanya sekedar permaian ?

Ada suatu telaah (pemaknaan) yang mungkin dapat kita gali dari permainan ini. Mari kita lihat !

A. TERIKAT PERATURAN
Layaknya sebuah permainan, catur mempunyai peraturan yang mengikat, baik berhubungan dengan pemain maupun dengan alat permainan itu sendiri. Penempatan dan protokol bidak sudah diatur sedemikian rupa, antara lain ; kuda dengan langkah letter L dan raja yang hanya boleh melangkah satu demi satu kotak (sebagaimana repotnya menjadi aristokrat). Tidak setuju dengan peraturannya ? Jangan main

B. ADIL
Lihatlah betapa adilnya permainan ini :

  • Daerah bertahan dan daerah serang yang sama luas dan bentuk
  • Materi dan komposisi ‘pasukan’ yang sama kuat
  • Formasi awal yang sempurna-serupa
  • Bila putih membuat satu langkah, maka hitam juga hanya boleh membuat satu langkah
  • Ingat, ini perang terbuka. Bidak tidak boleh menyusup, melangkah ke luar arena, kecuali bila sudah ‘dimakan’ musuh.

C. STRATEGI DAN TAKTIK
Atas keterikatan aturan dan ‘keadilan’ material tadi, kemenangan hanya dapat diraih dengan memilih dan menjalankan strategi yang jitu. Ingat, kita ingin memenangkan peperangan (war) bukan sekedar pertempuran (battle). Tidak jarang, untuk mengelabui lawan, pemain cenderung ‘mengorbankan’ salah satu bidaknya, dengan tujuan untuk mendapatkan bidak lawan yang lebih ‘fight’. Memilih perang di daerah lawan, di daerah sendiri, atau di daerah netral ? Terserah.
Anda ingin menang ‘kan ? Atau mungkin remis adalah bagian dari strategi anda ?

D. GET THE REWARD !

Permainan catur sangat menghargai sebuah kerja keras. Prajurit bintara (pion) yang berjuang sempurna, bertempur dengan berani, pada akhirnya akan bisa menjadi perwira dengan pangkat apa pun yang ia mau. Dan lahirlah perwira baru !

E. WHO IS THE KING ?

Ini sisi lain permainan catur, perihal hakiki predikat pemimpin. Seseorang diangkat menjadi pemimpin karena dianggap mampu melindungi orang-orang yang dipimpinnya. Tidak sangat aneh bila kita ingat bahwa dalam catur, kita tidak mengenal presiden, tapi Raja, dan raja itu diangkat, bukan dipilih. Strategi apa pun akan digunakan pemain untuk melindungi sang Raja, the symbol of the power. Masalahnya, banyak pemimpin yang merasa dan bertindak sebagai ‘Raja’. Pertanyaannya, bagaimana dengan pemimpin anda ?
F. And… WHO IS THE REAL KING?
Catur merupakan permainan yang sudah demikian akrab di kalangan masyarakat. Kadang-kadang, bahkan seringkali, sebuah papan catur yang sedianya hanya untuk dua pemain diramaikan dengan kehadiran penonton yang merasa sebagai pemain. Manakala catur dimainkan (bukan dikompetisikan), seringkali justru penonton yang mendominasi permainan. Kata lainnya ‘pembisik’. Bagaimanapun, the other voice(s) ini akan mengganggu stabilitas permainan, strategi menjadi kacau, kekalahan yang menyakitkan, atau kemenangan yang terasa hambar. Pertanyaannya, siapakah anda ? Bidak, pemain atau ‘pembisik’ ?
This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *