Kultus Individu

Aristoteles pernah mengatakan pendapatnya tentang hubungan manusia. Dengan sebuah pernyataan bahwa human is zoon politicon. Bagi yang terbiasa bergelut di dunia sosial politik ataupun filsafat mungkin kalimat ini tidak asing lagi dan sudah menjadi kalimat yang selalu digadang-gadangkan.

Menurut literatur, Aristoteles yang merupakan murid dari plato ini mendefinisikan spesies manusia sebagai ZOON POLITICON, yang arti umumnya adalah social animal(makhluk sosial) / political animal(makhluk politik). Secara sederhana artinya adalah manusia makhluk sosial karena manusia tidak dapat hidup sendiri; mereka membutuhkan orang lain dan membutuhkan rasa untuk dibutuhkan oleh orang lain.
Secara implisit yang saya pahami kemudian adalah bahwa setiap manusia memiliki jejaring kehidupan dengan manusia lain, baik itu secara langsung ataupun tidak secara langsung. Setiap manusia memiliki peran, dan setiap manusia memiliki manfaat untuk manusia yang lain. Dan saya ulangi lagi dengan penegasan, baik itu peran dan manfaat secara langsung ataupun tidak secara langsung.
Dengan tidak bermaksud mengecilkan makna seorang budak, saya juga ingin menyatakan bahwa budak/ hamba sahaya saja itu juga punya manfaat dan peran penting untak kehidupan manusia lain. Tanpa mereka, siapa yang mau dan rela mengerjakan hal-hal yang kotor dan menjijikkan, atau pekerjaan yang cuma remeh temeh dan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mungkin mau dikerjakan oleh seorang raja/ penguasa.
Lalu haruskah kita menampikkan peran dan manfaat mereka, hanya karena mereka seorang budak?! Jika seorang budak saja punya manfaat dan peran terhadap manusia lain, lalu bagaimana dengan sang Raja/ Penguasa?! Tentu saja, dengan penegasan kembali karena Ia juga adalah manusia, maka sedikit ataupun banyak – besar ataupun kecil – langsung ataupun tidak langsung, ia juga memiliki peran dan manfaat bagi manusia yang lain. Bahkan Raja Ramses II yang dikenal sebagai Firaun terdzolim pun juga memberi peran dalam kehidupan.
Maka, terlalu naif kita sebagai manusia jika membuat sebuah penyangkalan bahwa manusia lain tidak ada memberi manfaat terhadap kita. Apalagi jika manfaat itu sebenarnya pernah kita rasakan secara langsung. Makna implisit berikutnya yang saya pahami adalah ketika ada jejaring kehidupan antara manusia satu dengan manusia yang lain, maka interaksi itu akan memberi warna tersendiri terhadap manusia tersebut. Bisa saja terjadi interaksi yang baik, dan mungkin juga interaksi yang tidak baik. Tapi yang perlu di pahami adalah walaupun terjadi interaksi yang tidak baik, kita juga tidak bisa menyangkal bahwa manusia tersebut tidak memberi peran dan manfaat bagi kita. Karena kata kuncinya tadi adalah setiap manusia adalah makhluk sosial, setiap manusia terhubung dalam sebuah jejaring kehidupan dan setiap manusia memberi peran dan manfaat kepada manusia lain secara langsung maupun tidak secara langsung.
Ini cuma sekedar catatan malam menjelang tidur karena kegelisahan melihat manusia yang menganggap hanya ada satu manusia superior sehingga mata hatinya menjadi buta dan tidak melihat manfaat dan peran manusia yang lain. Tidak ada maksud menggurui dan menganggap paling benar. Tapi paling tidak saya sudah mencoba memberi manfaat dan peran sebagai manusia untuk memberikan sebuah pemahaman. Lalu masihkah manusia tidak mau berpikir?!
This entry was posted in Note. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kultus Individu

  1. Bang Iden,ijin untuk disebarkan lewat blog ryan @ aswirjunior.blogspot.com ,tulisannya mencerahkan bang

  2. yozi_dp says:

    salam BLOGGER dan salam kenal dari blogger asal kota padang, sumatra barat.
    maaf,saya masih Newbie
    yozidahfilputra.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *