Memaknai Ulang KESUKSESAN

Sukses, sebuah kata singkat yang sangat banyak makna dan menjadi keinginan banyak orang saat ini. Sehingga banyak orang akan melakukan berbagai cara untuk dapat meraih kesuksesan tersebut. Ada yang berusaha mendapatkannya dengan menempuh pendidikan formal yang tinggi dan ada yang berusaha mendapatkannya secara singkat melalui cara-cara yang melanggar norma dan agama. Begitulah sukses, ibarat manusia yang berusaha menangkap burung, bisa namun sangat susah. Dibutuhkan strategi, teknik, cara, pengorbanan dan sebagainya.
Ketika seseorang meraih suatu pencapaian dalam hidupnya, misalnya dalam hal jabatan, beberapa orang menilai dia sudah sukses. Penilaian itu muncul dengan membandingkan kondisi yang di alaminya sebelum pencapaian dan kondisi yang di alaminya setelah pencapaian tersebut.
Dan bagi seseorang yang sudah meraih pencapaian itu, dia juga akan menilai orang yang tidak mendapat pencapaian seperti dirinya adalah orang yang belum sukses. Sebegitu gampangkah mengukur kesuksesan?!
Walaupun sukses menjadi keinginan banyak orang, -bahkan semua orang-, tapi setiap orang memiliki pengertian yang berbeda-beda dalam memahami makna sukses itu sendiri. Ada sebagian orang memaknainya adalah KEKAYAAN. Kelompok ini umumnya mencurahkan hidupnya untuk menumpuk harta. Mereka melihat uang sebagai simbol kesuksesan. Itulah sebabnya mereka menjadi serakah dan amat mendewakan uang.
Uang menjadi oksigen yang mutlak diperlukan bagi kehidupan mereka. Sayangnya orang-orang seperti ini hidupnya hampa. Mereka umumnya cepat curiga terhadap orang lain. Amat sulit bagi mereka untuk berpikir positif terhadap orang lain. Kalau ada yang mencoba dekat, mereka lantas berpikir, “Jangan – jangan orang ini mau mengambil harta saya.” Seorang Mahaguru Kebijaksanaan pernah berkata orang yang menomorsatukan harta tidak akan menemukan arti hidup yang sejati. “Sebab di mana hartanya berada, di situlah pula hatinya
berada,” demikian nasihat Sang Mahaguru.
Saya tidak memungkiri bahwa kekayaan “khususnya uang” penting bagi hidup. Siapa sih yang tidak butuh uang? Sebuah lembaga keagamaan dan lembaga sosial pun butuh uang untuk kegiatan operasionalnya. Mana bisa kita mendirikan tempat ibadah tanpa uang yang merupakan sumbangan dari orang lain? Uang memang penting tapi uang bukan segalanya. Uang adalah sarana untuk membuat hidup kita makin berarti.
Selain kekayaan, ada juga orang yang mengidentikkan kesuksesan dengan ketenangan hidup. Kelompok ini tidak suka macam – macam. Sebagian bahkan cenderung pasif dan menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat. Sikap seperti ini juga merupakan sebuah pilihan dan kita tidak bisa mengatakan itu keliru.
Ada juga orang yang mengidentikkan kesuksesan dengan ketenaran. Mereka rela menempuh jalan panjang yang menanjak demi popularitas. Terkadang perjalanan panjang ini sangat melelahkan sehingga beberapa memilih jalan pintas dengan mempraktekkan cara – cara kurang terpuji, seperti (maaf) menjual diri.
Paham bahwa kesuksesan identik dengan ketenaran biasanya hanya terbukti kebenarannya pada tahap awal. Lambat laun, seiring makin meningkat popularitas, banyak hal-hal tertentu terjadi yang pada akhirnya membuat seorang tokoh publik (public figure) terpaksa menolak paham ini. Misalnya dengan hilangnya privacy yang bersangkutan karena setiap gerak – geriknya senantiasa diawasi masyarakat lewat pers. Terkadang saya sendiri amat iba melihat bagaimana kehidupan seorang artis “diobok – obok” secara berlebihan oleh media massa. Pihak media selalu mengatakan bahwa apa yang disajikannya adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu pembaca atau penonton. Mungkin ada benarnya juga. Yang pasti, jelaslah sudah bahwa kesuksesan tidak identik dengan ketenaran.
Selanjutnya ada juga yang mendefiniskan kesuksesan dengan kesehatan yang prima. Terhadap definisi ini terkadang saya mengajukan pertanyaan reflektif, bukankah ada begitu banyak orang dengan kesehatan yang amat prima namun hidupnya kosong? Mereka sama sekali tidak berkarya dan berusaha menjadikan hidupnya lebih berarti.
Jadi, apa makna SUKSES itu sebenarnya?! Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca ada delapan cakupan yang harus dimiliki dalam kehidupan ini untuk bisa dikatakan SUKSES, yaitu KEBAHAGIAN, KESEHATAN, KEUANGAN, KEAMANAN, KUALITAS PERSAHABATAN, HUBUNGAN KELUARGA YANG BAIK, PENGHARAPAN MASA DEPAN dan KEDAMAIAN PIKIRAN.
Karena terlalu banyaknya standarisasi SUKSES bagi setiap orang, maka kita perlu memaknai ulang apa itu SUKSES. Kenapa demikian? Karena ita tidak akan pernah bisa mengukur angka kebahagian untuk dikatakan SUKSES. Kita tidak akan pernah bisa mengukur seberapa sehat kita seharusnya untuk mengatakan SUKSES. Kita tidak akan pernah bisa mengukur berapa uang yang harus di dapat untuk dikatakan SUKSES. Kita tidak akan pernah bisa mengukur seberapa damai pikiran kita agar bisa dikatakan SUKSES, dan sebagainya.
Delapan cakupan tersebut semuanya adalah sesuatu hal yang tak terbatas, ditambah lagi bahwa manusia tidak akan pernah bisa merasa puas terhadap pencapaian-pencapaiannya.
Menurut saya, sukses bukanlah sebuah tujuan hidup karena kita tidak bisa mengukur dimana titik tujuan itu. Tapi sukses adalah sebuah perjalanan hidup. Jika kita telah berhasil meraih sebuah impian, kita toh tetap harus meneruskan perjalanan. Selama kita masih dalam perjalanan, maka selama itu pulalah kita akan berusaha mendapatkan SUKSES tersebut.
Dan ketika kita belum meraih pencapaian SUKSES, toh itu juga bukan berarti kita bisa dikatakan gagal. Karena yang namanya sebuah perjalanan hidup itu bisa sangat pendek, bisa panjang dan tidak diketahui kapan akhirnya. Kalau ternyata pada Kilometer 26 kita belum mendapatkan pencapaian, mungkin pencapaian sukses itu akan kita dapatkan di Kilometer 29, atau Kilometer 32, atau Kilometer 40 atau di kilometer lainnya.
Dan akhirnya, yang dapat kita yakini bersama adalah bahwa perjalanan hidup itu akhirnya adalah disaat kita menutup mata dan kembali kehadirat-Nya. Dan sebagai manusia, kita tidak pernah tahu kapan waktu itu datang. Sehingga yang hanya dapat kita lakukan saat ini hanyalah terus menempuh perjalanan dengan benar dan menghargai setiap proses yang dialami dalam perjalanan itu.
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *