Membunuh Infantilisme

Sebenarnya banyak keraguan untuk menulis note dengan tema ini, selain karena keterbatasan saya dalam memahami topiknya juga karena keraguan apakah saya cukup pantas untuk menulisnya. Tapi ada kegelisahan sejak tadi malam untuk terus memaksa otak untuk menulisnya. Note ini saya beri judul Membunuh Infantilisme, kata infantilisme ini saya dapatkan beberapa tahun yang lalu dalam sebuah buku yang menjadi referensi skripsi saya dulu. Infantilisme secara sederhana artinya adalah hal tidak tercapainya sifat kedewasaan dalam bertindak dan berpikir. Atau mengutip bahasa teman saya, infantilisme adalah anak-anak yang terjebak dalam tubuh orang tua.

Lalu, sudahkah kita menjadi manusia yang dewasa?? Pertanyaan sederhana ini mungkin akan sangat sulit di jawab, karena soal rumusan kedewasaan seseorang tidak dapat di ukur dari standar baku KAPAN itu akan terjadi dan dalam usia BERAPA. Karena tidak ada ukuran tunggal untuk menentukan kedewasaan seseorang. Kedewasaan bukan hanya menyangkut umur atau status tertentu, melainkan juga banyak bidang lain seperti perasaan, sikap, pandangan, orientasi, perilaku atau lainnya.

Dari beberapa sumber, saya menemukan beberapa jenis bentuk kedewasaan, yaitu:
  1. Dewasa secara fisik, dimana organ-organ reproduksi telah berfungsi secara optimal yang ditandai dengan produksi sperma yang baik pada pria dan produksi sel telur yang memadai pada wanita. Selain perkembangan sel-sel otot tubuh yang menandakan sekaligus membedakan pria dan wanita.
  2. Dewasa secara psikologis, yang ditandai dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan.
  3. Dewasa secara social-ekonomi, ditampakkan dalam kemampuan seseorang untuk mandiri, membiayai kebutuhan hidup sendiri dan menangani berbagai hal dengan kemampuan sendiri.

Selain tiga point diatas kedewasaan juga dapat dilihat dari beberapa kemampuan, seperti :
  1. Kemampuan mengenali dan menerima diri sendiri
  2. Kemampuan menerima keberadaan orang lain
  3. Kemampuan mengarahkan hidup kepada orang lain
  4. Kemampuan berpikir dan bertindak mandiri, menyuruh dan melarang diri sendiri, tahu tugas dan tanggung jawab, serta mampu membedakan mana yang benar dan tidak benar.

Lalu seperti apakah perbandingan manusia dewasa dengan yang tidak dewasa? Ada beberapa sifat yang saya coba bandingkan berdasarkan pengamatan sehari-hari.
  1. Emosional. Anak-anak mengalami proses merasakan, bertindak dan berpikir. Sedangkan, orang dewasa berpikir, bertindak dan akhirnya merasakan. Artinya, seorang yang dewasa adalah pribadi yang dengan tenang mempertimbangkan setiap keputusannya dan tidak terjebak dalam emosi, perasaan dan pengaruh lingkungan belaka. Kedewasaan menuntut pemahaman akan kebenaran itu tanpa emosi yang meledak-ledak tak terkontrol. Efeknya adalah orang yang tidak dewasa dia baru akan sadar akibat sesuatu hal ketika dia sudah merasakannya langsung walaupun sebelumnya sudah banyak orang yang memperingatinya. Sedangkan orang dewasa akan berpikir terlebih dahulu sebelum berbuat, bertindak dan berkata sehingga dia sudah mampu mengantisipasi segala resiko yang akan terjadi kemudiannya.
  2. Egois. Setiap orang memiliki ego, namun orang yang tidak dewasa sering melampaui egonya sehingga menjadi egois. Ia pun tidak menyadari bahwa dirinya egois. Semakin egois, ia semakin jauh untuk melampaui kedewasaan. Kedewasaan memang menyadarkan akan eksistensi diri yang sesunguhnya, tapi bukan mementingkan diri sendiri dan menghempaskan eksistensi orang lain. Manusia yang tidak dewasa ini juga akan sulit untuk menerima kebenaran dari orang lain. Walaupun kebenaran itu juga bersifat relatif, namun manusia yang tidak dewasa tidak akan mau menerima pendapat orang lain.
  3. Tidak konsisten. Dasar dari karakter seorang yang dewasa adalah konsisten. Sebaliknya, bila seseorang masih bersikap tidak konsisten, mudah terpengaruh terhadap hal-hal baru, maka sulit baginya untuk mencapai kedewasaan sekali pun usia memenuhi untuk dewasa. Konsistensi memang selayaknya dimiliki oleh orang yang sudah mencapai usia dewasa, namun banyak juga yang tidak memperhatikan konsistensi dirinya, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain. Manusia yang tidak dewasa akan selalu melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa-apa yang ada dipikirannya. Ketika dia mensepakati sesuatu, maka orang yang tidak dewasa belum tentu akan melakukan apa-apa yang disepakati tersebut.
  4. Tidak bertanggung jawab. Sebagai makhluk social, manusia dituntut memiliki tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain. Namun, kesadaran akan tanggung jawab hanya ada dalam pikiran orang dewasa. Orang yang tidak dewasa cenderung bingung dengan tanggung jawab dan sering mencari kambing hitam untuk melimpahkan tanggung jawab itu. Banyak hal yang diembankan ke orang yang tidak dewasa, tidak akan pernah diselesaikannya. Dia akan acuh tak acuh terhadap hal itu dan hanya berharap orang lain yang akan menyelesaikan tanggung jawabnya tersebut.
  5. Suka bersembunyi. Setiap orang tentu akan ditimpa berbagai masalah yang tak jarang masalah itu muncul dalam bentuk yang sangat sulit hingga mencapai tahap yang sangat kritis. Pada saat kritis terjadi, pada saat itulah kedewasaan di uji. Orang yang dewasa akan dengan berani menghadapi masalah itu. Namun orang yang tidak dewasa akan lari dan bersembunyi, seolah dengan begitu masalah akan selesai.
  6. Hanya berespon terhadap pemaksaan. Orang yang belum dewasa adalah orang yang hanya berespon apabila dipaksa atau ditekan. Keterpaksaan dan tekanan itu bisa dalam bentuk harapan untuk mendapat imbalan, kompensasi, atau rasa frustasi. Jadi segala respon yang dia lakukan adalah bukan karena kesadaran diri sendiri tapi lebih karena pemaksaan, tekanan atau harapan.
  7. Tidak mampu mengungkapkan pendapat. Orang dewasa akan mampu berpikir dengan baik sehingga segala yang ada di pikirannya juga akan mampu di sampaikan nya kepada orang lain. Walaupun ada juga manusia yang memiliki sifat pemalu, tapi tetap saja seharusnya manusia jika sudah dewasa Ia akan mampu menunjukkan pendapatnya. Diam tidak akan mampu menjawab apa-apa, maka berbicaralah jika ada pendapat yang akan disampaikan.

Lalu kembali ke pertanyaan awal di atas, sudahkah kita dewasa?!
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *