Mengapa Harus Memiliki ?

Selama ini kita selalu menganggap bahwa apa-apa citra yang kita lihat dengan mata kita adalah sebuah benda yang nyata berada di luar diri kita. Sehingga kita selalu berkesimpulan bahwa mata kita adalah “jendela” untuk melihat sebuah dunia. Seperti misalnya kita melihat sebuah mobil yang mewah, yang kita lihat dengan kedua mata kita dan kita selalu anggap mobil itu adalah sebuah materi yang nyata. Kita selalu yakin kita dapat melihat warna mobil itu yang terang, design nya yang bagus dan sebagainya. Namun, benarkah mobil itu adalah sebuah benda nyata yang berada diluar diri kita?
Atau misalnya saja tulisan yang sedang anda baca ini. Kita selalu menganggap bahwa tulisan yang sedang anda baca ini adalah sesuatu materi yang nyata, yang anda baca melalui sebuah Komputer/ Laptop yang juga nyata dan huruf-hurufnya tersusun dengan nyata juga. Tapi, benarkah tulisan ini sebuah pencitraan materi yang nyata berada diluar diri kita?
Sebenarnya, bukan mata kita yang sedang melihat. Namun yang “melihat” adalah otak kita. Mobil yang kita lihat seperti yang saya tulis di atas, atau tulisan yang sedang anda baca ini sebenarnya hanyalah sebuah ilusi, bukan benda yang nyata. Secara ilmiah, konsep melihat bukanlah sesederhana seperti yang kita pahami dengan menggunakan mata. Selama ini, telah diajarkan kepada kita bahwa kita menyentuh pakaian yang ada di luar tubuh kita, membaca sebuah buku yang jaraknya 30 cm dari mata kita, mencium bau pepohonan yang letaknya jauh dari diri kita, atau mendengar gemerisik dedaunan yang berada jauh di atas kita. Akan tetapi, semuanya ini ada di dalam imajinasi kita. Semua hal ini tadi terjadi di dalam otak kita.
Masing-masing organ pengindraan kita dengan rumit menyesuaikan diri terhadap jenis rangsangan yang diterimanya: berbagai molekul, gelombang atau getaran. Namun jawabannya tidak terletak di sini, karena meskipun keragaman mereka yang begitu mengagumkan, tiap-tiap organ pada dasarnya memiliki tugas yang sama: ia menerjemahkan suatu jenis rangsangan tertentu menjadi pulsa-pulsa listrik.
Dengan kata lain, semua perasaan dan persepsi kita tentang dunia ini (berbagai bau, penglihatan, citarasa, dsb.) tersusun dari materi yang sama, yaitu sinyal-sinyal listrik. Lebih dari itu, otak kitalah yang membuat sinyal-sinyal ini punya arti bagi kita, dan menginterpretasikan sinyal-sinyal ini menjadi penginderaan penciuman, mengecap, penglihatan, suara, dan rabaan. Ini adalah sebuah fakta yang menakjubkan bahwasanya otak, yang terbuat dari daging basah, dapat mengetahui sinyal listrik mana yang mesti diinterpretasikan sebagai pendengaran dan mana sebagai penglihatan, dan dapat mengonversikan material yang sama menjadi berbagai penginderaan dan perasaan
Semua fakta ini mengarah ke suatu kesimpulan yang sama. Di sepanjang hidup kita, kita selalu berasumsi bahwasanya dunia ini ada di luar diri kita. Akan tetapi, dunia ini ada di dalam diri kita. Meskipun kita percaya bahwasanya dunia ini terletak di luar diri kita, ia berada di dalam bagian terkecil dari otak kita.
Apa yang diperlihatkan ini adalah bahwasanya setiap orang di sepanjang hidupnya menyaksikan segala hal di dalam otaknya dan tidak dapat menjangkau benda-benda material tertentu yang dianggap mengakibatkan apa yang dialaminya. Citra-citra yang kita lihat adalah salinan-salinan di dalam otak kita dari benda-benda yang kita asumsikan ada di luar diri kita. Kita tak pernah tahu hingga sebatas manakah salinan-salinan tadi sesuai wujud aslinya, atau apakah wujud aslinya itu sendiri memang ada ataukah tidak.
Jadi, semua yang kita lihat itu adalah sebuah persepsi saja yang di terjemahkan oleh otak kita. Ia bukanlah sebuah materi yang nyata dan benar-benar ada. Dan ketika semua benda yang kita lihat itu adalah sebuah persepsi saja, lalu untuk apakah kita harus memilikinya?!
(terinspirasi dari “Hakikat Di Balik Materi” karya ilmuan besar Harun Yahya)
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

One Response to Mengapa Harus Memiliki ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *