Refresif terhadap demonstran


Setiap warga negara memiliki hak politik yang dijamin oleh konstitusi untuk menyampaikan pendapatnya di depan umum, termasuk demonstrasi. Pada dasarnya hakikat demonstrasi adalah kritik sosial. Karena itu, demonstrasi tidak boleh dipandang sebelah mata dan dihadapi secara represif oleh aparat penegak hukum.Dalam perspektif ini, jelas demonstrasi sebagai kritik sosial sah dilakukan oleh setiap warga negara asalkan dilakukan sesuai dengan etika yang diatur dalam undang-undang. Layak kita bertanya apakah salah jika seseorang menggalang massa untuk melakukan demonstrasi, termasuk menolak kebijakan pemerintah yang dipandang merugikan masyarakat? Apakah salah pula seseorang mendanai demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa dan atau masyarakat secara umum sebagai kritik sosial terhadap kebijakan pemerintah? Jika itu salah, pemerintah (dalam hal ini aparat penegak hukum) mesti dapat menunjukkan argumentasi legalitasnya kepada publik mengapa mendanai demonstrasi dan menggalang massa untuk demonstrasi itu tidak dibenarkan, sementara hak-hak politik setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat dijamin oleh konstitusi.

Dalam aksi massa, perubahan kebijakan publik menjadi tujuan dari gerakan parlemen jalanan itu. Hal ini dianggap penting, karena Pemerintah tidak akan mampu memahami kondisi masyarakat di level akar rumput jika tidak disampaikan oleh kelompok-kelompok kepentingan (interest group) seperti mahasiswa, NGO dan sebagainya. Mengapa saya mengatakan Pemerintah (atau Pejabat) tidak akan bisa memahami kondisi masyarakat sebenarnya, karena kondisi sosial ekonomi Pemerintah sangat jauh dari kondisi sosial ekonomi masyarakat. Bagaimana mereka tahu bagaimana susahnya membeli minyak tanah jika sehari-hari kebutuhan dapurnya di atur dan di urus oleh seorang pejabat berwenang juga yang bernama Kepala Sub Bagian Rumah Tangga? Bagaimana mereka tahu bahwa masyarakat merasa tidak aman di jalanan jika mereka kemana-mana selalu di kawal oleh Patwal dan Walpri? Dan lain sebagainya.

Kembali ke masalah kekerasan oleh Aparat terhadap Demonstran, hal ini terjadi karena Aparat tidak memposisikan diri mereka sebagai mediator antara Demonstran dan pihak yang di demo. Aparat lebih cenderung memposisikan diri sebagai alat kepentingan Penguasa atau Pemerintah. Sehingga yang terjadi adalah Aparat lebih berpihak kepada pihak yang di demonstrasi.

saya pikir, siapa saja pasti tidak sepakat bahwa kekerasaan terjadi dalam sebuah aksi. Demonstrasi adalah cara menyampaikan pendapat tatkala saluran politik formal yang ada macet atau tidak berfungsi. Demonstrasi bukan saluran pelepas kemarahan. Dalam kenyataan memang tidak selalu demikian. Ada banyak fakta menunjukkan itu. Tetapi kita tidak bisa menilainya secara simplistis. Kekerasan yang terjadi dalam demonstrasi tidak bisa diisolasi menjadi persoalan demonstran yang tidak taat asas demokrasi. Ada banyak kontributor yang memungkinkan itu terjadi. Dalam banyak kejadian, kontributor utamanya adalah pemerintah. Demonstrasi lahir sebagai tanggapan: adalah akibat, bukan sebab.

Bedakan juga, mana tindakan pengamanan, mana tindakan represif aparat dalam menghadapi demonstran. Itu dua hal berbeda yang sering disamakan, terutama oleh pemerintah. Atas nama keamanan, pemerintah melalui aparat bertindak sewenang-wenang terhadap demonstran. Kasus penyerangan ke beberapa kampus adalah salah satunya. Karena itu, untuk menghindari kekerasan dalam demonstrasi, bukan hanya demonstrannya yang dituntut taat asas demokrasi, tetapi juga dan terutama pemerintah/kepolisian.

Demonstrasi tidak bisa dilarang, apalagi dimatikan. Karena Demonstrasi merupakan sesuatu yang sah dan hak. Bukan karena ada ketentuan yang mengatur itu. Sebagai akibat, dia akan selalu muncul tak terhindarkan sebesar apapun usaha untuk mematikannya.

This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

One Response to Refresif terhadap demonstran

  1. Riema Ziezie says:

    mengkritisi kondisi yang ada yg terealisasi menjadi demonstrasi seyogyanya disikapi dgn bijak oleh aparat agar tidak menjd anarkis..(zie jd rindu dgn aksi demo 1998-2004 lalu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *